Mimpi Itu tentang “Menjadi”, bukan “Memiliki”

Mengais Makna

Masih tentang mimpi. Setiap kali saya menyampaikan kepada adik-adik saya, bahwa di dalam hidup ini kita perlu memiliki ‘mimpi’, hampir selalu saja muncul pertanyaan semacam ini: “Buat apa kita bermimpi? Toh, kalau tidak tercapai, kita akan kecewa.” Dalam logika sebagian kita, bahwa semakin tinggi mimpi, semakin sakit jatuhnya, jika mimpi itu tidak kesampean. So, mending biarkan hidup ini ‘mengalir’ apa adanya. Tak perlu mimpi. Tak perlu neko-neko. Jika takdir sudah menentukan, kita akan sampai juga.

Hal senada, tetapi lebih bernada optimistis dan positif, saya dengar dari seorang CEO majalah mingguan ternama. Beliau menyampaikan kepada saya, dan juga beberapa orang kawan lainnya, bahwa kita tidak perlu bermimpi yang terlalu kompleks, muluk dan mengawang-awang, katanya. Tugas kita, masih katanya, adalah melakukan semua hal dengan sungguh-sungguh, di mana pun kita bertugas dan diberi amanah. Niscaya, katanya lagi, kita akan diberi tugas dan amanah yang lebih tinggi lagi. Proses itu akan mengalir, hingga kita…

Lihat pos aslinya 584 kata lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s