Iklim Usaha di Daerah Masih Keruh?

Mengais Makna

Sebelas tahun sudah, seabreg harapan kita tambatkan pada makhluk yang bernama reformasi. Salah satu harapan itu adalah kemakmuran yang merata di seantero negeri.

Orde Baru telah menyisakan persoalan ketimpangan yang akut, dalam banyak hal. Selama 32 tahun, kemajuan, yang berujung pada kemakmuran, menjadi monopoli Jawa, khususnya Jakarta. Kasihan luar Jawa. Kasihan juga Indonesia timur.

Lihat bagaimana miskinnya Aceh di tengah lumbung gas alam. Lihat pula bagaimana Papua melarat di pedalaman gunung emasnya. Lihat bagaimana masih tergantungnya APBD Riau dan Kaltim pada APBN, di tengah ladang minyak yang pekat. Lihat bagaimana makmurnya Jakarta di tengah kemiskinan dan polusi alamnya. Ah, membanding-bandingkan memang selalu tak enak. Getir.

Lagipula, masih ada anak kandung reformasi: otonomi daerah, yang mungkin masih bisa menolong kita. Daerah, dengan setumpuk kewenangan istimewanya, diharapkan bisa menjadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru. Kondisi itu mensyaratkan lingkungan usaha yang kondusif di daerah. Dan inilah tantangannya. Wahai raja-raja kecil, bupati-bupati kami tercinta…

Lihat pos aslinya 386 kata lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s